Knowledge Base Help Center
Table of Contents
< All Topics
Print

Tionghoa Peranakan

Pada awalnya istilah itu ditujukan untuk imigran Tionghoa generasi awal yang memeluk agama Islam dan melebur ke dalam masyarakat lokal, melakukan perkawinan campuran dan mengidentifikasi diri sebagai salah satu suku pada abad ke-19 (contohnya masyarakat Tionghoa awal di Pantura dan Madura). Ingatlah bahwa imigran awal adalah pria yang tidak membawa keluarga atau istri dari tanah asalnya. Wanita asli dari Tiongkok hampir tidak ada.

Kelompok Tionghoa yang tidak melebur ke dalam masyarakat lokal (tidak mengikuti adat lokal dan agama Islam) juga menikahi wanita lokal, tetapi budaya leluhur mereka masih dipertahankan. Golongan ini dinamakan Chineezen oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Setelah Peranakan Islam “lenyap”, golongan Chineezen inilah yang dinamakan peranakan Tionghoa. Keturunan atau generasi peranakan ini tidak lagi menguasai bahasa Tionghoa. Mereka menggunakan bahasa daerah seperti Melayu (Betawi), bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya.

Secara kultural peranakan ini bukan orang Indonesia asli dan juga bukan Tionghoa 100%. Terlalu Indonesia untuk jadi Tionghoa, terlalu Tionghoa untuk jadi Indonesia.

Lalu, pada akhir abad ke-19 dan 20, terjadi imigrasi besar dari daratan Tiongkok yang membawa orang Tionghoa totok yang berbahasa Tionghoa. Mereka ini berbeda secara budaya dan pandangan dengan peranakan. Budaya Tionghoa peranakan menyerap banyak unsur budaya daerah setempat.

Pada tahun 1920, peranakan mencakup 70 % dari total Tionghoa di Pulau Jawa. Sekitar 1950-an, persentase orang totok naik hampir seimbang dengan peranakan seiring datangnya mereka dalam jumlah besar.

Selanjutnya kesimpulannya, menurut pandangan saya, setelah Indonesia merdeka hingga kini, lebih dari 70 tahun kemudian, dengan berbagai kejadian yang terjadi di dalamnya, istilah peranakan dan totok sudah tidak bisa lagi digunakan untuk menggolongkan salah satu kelompok orang Tionghoa. Antara Tionghoa totok dan peranakan juga banyak yang telah kawin campur. Orientasi mereka tidak lagi ke luar (Republik Rakyat Tiongkok / Republik Tiongkok), tetapi ke dalam negeri.

Peranakan kini sudah menjadi istilah sejarah dan warisan budaya saja, misalnya saja dalam arsitektur, seni musik, pakaian, kuliner dan sebagainya.

Kalau ingin menggolongkan, rasanya semua orang berdarah Tionghoa Indonesia dewasa ini adalah peranakan, apakah dia keturunan Tionghoa berdarah campuran atau keturunan totok (asli). Semuanya yang lahir, besar dan hidup di Indonesia dan berkewarganegaraan RI.

Referensi :

  • Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa, Leo Suryadinata, LP3ES, 1999
  • Politik Tionghoa Peranakan di Jawa 1917–1942, Leo Suryadinata, Pustaka Sinar Harapan, 1986.
  • Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, Leo Suryadinata, Grasindo, 1996.