Knowledge Base Help Center
Table of Contents
< All Topics
Print

Perayaan Peh Cun

Peh Cun berarti “Mendayung Perahu“, berasal dari kata 扒船 yang dilafalkan dalam bahasa Hokkien. Perayaan ini diselenggarakan sekitar bulan Juni untuk memperingati kesetiaan seorang penyair di zaman Tiongkok kuno bernama Khut Goan (Qu Yuan). Penyair ini bunuh diri di Sungai Miluo karena kecewa dengan pemerintahan yang korup. Rakyat menangisi kematiannya dan beramai-ramai mencarinya dengan perahu dan melemparkan nasi dibungkus daun agar ikan-ikan jangan memakan jasadnya. Peristiwa kematian Qu Yuan di sungai itu lalu diingat oleh rakyat Tionghoa sebagai Perayaan Mendayung Perahu dan membuat kue beras isi daging (bakcang).

Di beberapa komunitas Tionghoa di Nusantara, akar perayaan Peh Cun berasal dari tradisi serupa di masyarakat Tiongkok Selatan. Tepat di tengah hari pada tanggal itu dipercaya sebagai hari yang bertuah di mana khasiat air menjadi berlipat ganda dan baik untuk kesehatan. Tak ada alasan yang cukup mendukung di balik tradisi ini namun ada kaitannya dengan keadaan musim dan aktivitas masyarakat pertanian pada zaman dahulu. Menjelang bulan Juni, cuaca di Tiongkok bagian selatan semakin hangat, mendekati musim panas. Pada saat inilah banyak terjadi gangguan dari hewan-hewan liar seperti serangga dan ular yang diasosikan sebagai jelmaan siluman. Di rumah-rumah warga, dilakukan pengasapan dengan obat serangga beraroma harum, lalu dirangkai bermacam-macam dedaunan yang dianggap magis. Tujuannya untuk mengusir siluman dan hewan pembawa penyakit. Kemudian tradisi mandi di siang hari mempunyai tujuan untuk menyegarkan dan menyehatkan tubuh.

Sejarah Perayaan Peh Cun di Nusantara telah berlangsung lama. Kemeriahan perayaan ini paling awal direkam dalam catatan penulis Eropa seperti LeguatLe Brun dan Valentijn. Pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, mereka menyaksikan kemeriahan lomba perahu yang diadakan warga Tionghoa di Kali Besar. Sampai awal abad ke-20, perlombaan perahu masih diadakan di Batavia, namun terpaksa dihentikan karena sungai-sungai telah mendangkal karena lumpur. Perlombaan kemudian dipindahkan ke Tangerang.