Knowledge Base Help Center
Table of Contents
< All Topics
Print

Makan Meja

Makan meja yang di kalangan etnis Tionghoa-Indonesia biasa disebut dengan pang-toh atau ciak-ciu atau ciak-toh berasal dari kata Cānzhuō (餐桌); Hokkian: pn̄g toh / chia̍h-pn̄g toh-á. Dalam bahasa Inggris bisa diartikan dengan banquet atau table-party atau table-dinner.

Istilah “makan meja” ini adalah salah satu tradisi makan di kalangan etnis Tionghoa yang bermakna jamuan makan di meja. Dalam artian, saat Anda diundang ke sebuah acara misalnya seperti pesta pernikahan, maka Anda sebagai tamu akan dianggap sebagai VIP, mendapat tempat duduk khusus dan jamuan makanan serta minuman yang sudah diatur khusus oleh pihak tuan rumah.

Kartu/pemberitahuan undangan yang akan Anda terima sebagai tamu juga tidak seperti undangan umumnya dalam pesta ala prasmanan. Umumnya Anda akan menerima nomor tertentu yang menunjukkan posisi duduk Anda bersama keluarga, di meja sebelah mana. Biasanya tuan rumah akan mengelompokkan para tamu berdasarkan kecocokan. misalnya teman dari pihak istri, di kumpulkan semeja, teman-teman dari pihak suami di meja yang lain, keponakan di kumpulkan dengan keponakan, supaya orang-orang muda saling mendekatkan diri.

Dalam pesta pang-toh / ciak-ciu, tamu duduk disekeliling meja berbentuk bundar, yang biasanya bisa diputar, tergantung pihak restoran/gedung acara. Dalam satu meja biasanya memiliki kapasitas 10-12 orang. Makanan dan minuman yang tersedia bisa dinikmati tanpa sungkan, dan akan ada pelayan yang membantu menyiapkan/membersihkan kuliner Anda.

Dalam tradisi ini, Anda sebagai tamu yang sudah sangat dihargai oleh pihak rumah, maka secara etika sudah sepantasnya para tamu juga menjalankan adat sòng lǐwù (送禮物) alias memberikan hadiah kepada pihak tuan rumah, bisa berupa bingkisan fisik atau uang dalam amplop merah (ang-pao).