Knowledge Base Help Center
Table of Contents
< All Topics
Print

Hoo Eng Djie

Hoo Eng-djie (何榮日) adalah seorang pencipta lagu dan pemusik berdarah Tionghoa yang lahir di Maros antara tahun 1906-1907. Leluhurnya berasal dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Kiprahnya sangat aktif dalam dunia kesenian Makassar jauh sebelum Perang Dunia-II dan berlanjut hingga awal tahun 1960. Tidak hanya dikenal dalam lingkungan Peranakan Tionghoa Makassar, tetapi juga masyarakat Makassar kebanyakan.

Hoo Eng-djie sedari kecil telah putus sekolah, namun di sekolah dasar ia sempat belajar bahasa Melayu, Bugis dan Makassar. Ketertarikannya pada dunia musik dimulai dengan kesukaannya pada tradisi pakkacapi (pencerita yang diiringi kecapi Bugis) dan pabbiola (pencerita yang diiringi biola). Ia pun mengadaptasikan nyanyian dan kisah Tionghoa lokal Makassar. Lagu-lagu seperti Sai Long, Pasang Teng, Ati Raja dan Sio Sayang pada awalnya merupakan lagu khas Tionghoa. Lagu-lagu ini sampai sekarang populer dinyanyikan pada pesta-pesta perkawinan orang Tionghoa maupun Makassar.

Ia membentuk sendiri sebuah grup musik bernama Sinar Sedjati pada tahun 1938. Antara tahun 1938 hingga 1940, Hoo Eng-djie merekam lebih dari 20.000 piringan hitam. Kepopuleran grup Sinar Sedjati membawa Hoo dan anggotanya untuk menggung di Surabaya dan kota-kota lain di Pulau Jawa membawakan lagu-lagu dari Sulawesi Selatan.

Hoo Eng-djie mendedikasikan dirinya dalam bidang kesenian dengan menulis syair dan lagu-lagu daerah berbahasa Makassar. Namun, jalan hidup Hoo Eng-dije pada awalnya sangat berliku. Keluarganya tidak kaya dan ini menjadi alasan ia ditolak oleh keluarga pacarnya. Ia gagal menjalin cinta dengan beberapa gadis yang membuatnya jatuh ke dalam kesedihan dan mabuk minuman keras. Dari pengalaman hidupnya yang menyakitkan dan menyedihkan itu ia menumpakan inspirasi untuk menulis dan menciptakan lagu.

Pada dekade 30-an hingga 40-an, ia menjadi sangat produktif dengan ciptaan mencapai 3000 karya lagu yang sebagian besar bertema kesedihan. Tapi ada pula lagu yang ditulisnya untuk mengungkapkan kegembiraannya pada istrinya Soan Kie, seperti lirik Sio Sayang yang berbunyi :

Kontu intas kungaimu (Bagaikan intan rasa suka-hatiku)

Djamarro kuleba ngannu (Bagai zamrud kasihku terhadapmu)

Kontu bulaeng (Seumpama emas nomor satu)

Kubolinu ripamai (Kusimpan dalam lemari hatiku)

Setelah Perang Pasifik berakhir dan Indonesia merdeka, orkes-orkes kedaerahan Indonesia kembali populer. Radio Makassar sering mengadakan lomba-lomba musik untuk menyemarakkan suasana. Pada tahun 1950 grup musik Hoo Eng-djie dinamai sebagai Singara Kullu-Kullawa yang dalam bahasa Makassar berarti Cahaya Kunang-Kunang. Selama periode ini, grup musik Hoo sering mendapat juara lomba musik. Pada tahun 1953, Hoo Eng-djie diberikan penghargaan oleh Radio Nasional kemudian diundang oleh Presiden Soekarno ke Istana Merdeka. Presiden Soekarno menyerahkan surat bukti penghargaan kepada Hoo Eng-djie atas kontribusinya di dunia seni. Setelah itu grup musiknya berganti nama menjadi Sawerigading. Hoo tetap menulis lagu hingga akhir hayatnya pada tanggal 7 Maret 1960.

Karena lagu-lagunya dianggap sangat menyentuh hati orang Makassar, ditambah lagi Hoo Eng-djie merupakan sosok yang pandai bergaul dan merangkul, ia bisa berteman dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang suku dan agama. Melalui lagu-lagunya, Hoo Eng-djie mendorong tumbuhnya kesadaran akan persatuan antara sesama warga negara Indonesia. Berbagai lagu berbahasa Makassar yang ditulisnya masih populer hingga kini.

Referensi :

  • Sastra Indonesia Awal, Kontribusi Orang Tionghoa. Claudine Salmon. Kepustakaan Populer Gramedia. 2010. hal 484–491.
  • Biografi Delapan Penulis Peranakan, dari Penjaja Tekstil Sampai Superwoman. Myra Sidharta. Kepustakaan Populer Gramedia. 2004. hal 99–123