Knowledge Base Help Center
Table of Contents
< All Topics
Print

Ceng Beng

Perayaan Ceng Beng adalah tradisi rakyat Tionghoa yang berumur ribuan tahun di mana tiap daerah di Tiongkok mempunyai kekhasannya masing-masing.

Di negeri Tiongkok, puncak Perayaan Ceng Beng jatuh bersamaan dengan Perayaan Makanan Dingin (Hanshi).

Pada perayaan ini, makanan tidak boleh dihangatkan (dikonsumsi dalam kondisi hangat), artinya harus dimakan dingin atau dipersiapkan pada hari sebelumnya. Tradisi ini dimulai sejak abad ke-7 SM untuk mengenang Jie Zhitui, tokoh berbudi luhur yang tewas dalam pembakaran hutan di gunung oleh perintah Adipati Wen dari Jin. Untuk memperingati kematiannya, rakyat mengonsumsi makanan dingin dan tidak menyalakan api. Tradisi ini awalnya dijalankan pada musim dingin, namun seiring waktu beralih ke musim semi, bersamaan dengan tradisi ziarah makam (Perayaan Ceng Beng).

Ziarah makam yang bertepatan dengan awal musim semi merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi masyarakat Tiongkok. Seusai ziarah mereka akan berkumpul bersama menikmati permainan atau hidangan yang dibawa dari rumah.

Perayaan Makanan Dingin tidak dirayakan dalam komunitas Tionghoa di Indonesia, yang mana di sini lebih dipentingkan adalah tradisi ziarah makam dan kumpul keluarga. Untuk hidangan, boleh dikatakan yang disajikan tidak begitu banyak atau meriah dibandingkan perayaan lain seperti Imlek, karena tidak adanya pembakuan.

Orang Tionghoa Indonesia mempersembahkan “hidangan untuk leluhur”. Persembahan untuk leluhur ini dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Umumnya untuk persembahan terdapat samseng/samsang, yakni daging dari tiga jenis hewan (ayam, ikan, babi). Kemudian ada kue-kue dan minuman (air, teh, arak, dan kopi). Sedangkan untuk yang bervegetarian mempersembahan hidangan vegetarian yang terdiri dari sayuran, nasi dan buah.